Kelompok Tani Kembangkan Biogas
edisi: 28/Nov/2009 wib
Respi Leba
LISTRIK DARI BIOGAS - Ibu Ketua PKK Basel, Ekawati Justiar Noer menekan tombol listrik dari tenaga biogas yang dikembangkan kelompok tani Setia Manunggal, Desa Panca Tunggal-Kecamatan Pulau Besar, Bangka Selatan, Rabu (25/11).
PULAU BESAR, BANGKA POS -- Kelompok Tani Setia Manunggal Desa Panca Tunggal Kecamatan Pulau Besar mengembangan listrik biogas menggunakan kotoran ternak sapi. Program ini diresmikan penggunaan dan pengembangannya oleh Bupati Bangka Selatan, Justiar Noer, Rabu (25/11) di Desa Panca Tunggal.
Justiar Noer dalam arahannya mengungkapkan bahwa pengembangan biogas menggunakan kotoran ternak merupakan terobosan baru para kelompok tani sapi bergulir di Bangka Selatan. Hal ini menurut Justiar merupakan langkah positif yang harus didukung pemerintah dengan mengembangkannya dalam skala yang lebih besar.
“Listrik biogas merupakan bentuk kreativitas kelompok tani. Kotoran ternak sapi bisa digunakan sebagai sumber penghasilan baru, selain memberikan energi gas, tetapi juga kotoran hasil pengolahan menjadi gas dapat dikemas menjadi pupuk organik siap pakai. Dan kalau ini kita kembangkan serius, akan lebih banyak daya gas yang bisa digunakan untuk keperluan rumah tangga,” ungkap Justiar.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Basel, Ahmad Damiri, menjelaskan program sapi bergulir kepada kelompok tani selama ini mengalami banyak perkembangan jumlah populasi sapi. Karena itu, pihak dinas berusaha untuk membenahi fasilitas kandang dengan menyalurkan bantuan pembuatan kandang. Selaian itu, guna menambah produktivitas sapi peliharaan, para anggota kelompok tani diberikan bantuan zat mineral perangsang pertumbuhan ternak sapi.
“Sehubungan dengan biogas, untuk sementara masih dikembangkan di tingkat kelompok tani masing-masing, tetapi ke depan akan dikembangkan secara bersama dalam suatu wadah yang lebih besar dan terpusat. Program biogas menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan para anggota kelompok tani, gasnya menjadi sumber daya sedangkan kotoran dijadikan pupuk organik siap pakai,” jelas Damiri.
Bupati Bangka Selatan, Justiar Noer dan Ketua PKK Basel, Ekawati Justiar Noer, meresmikan pengembangan biogas dengan menghidupkan genset menggunakan energi biogas, menyalakan kompos gas dari energi biogas serta menghidupkan lampu listrik di kandang sapi kelompok tani yang menggunakan energi biogas. (j2)
Masih Sederhana
SEMENTARA itu, Ketua Kelompok Tani Setia Manunggal, Wartono, menuturkan kolam pengolahan atau fermentasi yang dikembangkan sekarang masih ukuran kecil untuk kapasitas tujuh kubik. Ia menambahkan bahwa proses pengolahannya pun sederhana.
“Kotoran ternak sapi disalurkan ke kolam fermentasi, diolah, menghasilkan gas dan sisa kotoran. Gasnya disalurkan melalui pipa gas ke genset sebagai sumber energi genset untuk penerangan serta ke kompor gas. Untuk sementara energi biogas masih hanya digunakan untuk keperluan penerangan dan kompor gas. Gasnya kita gunakan, lalu sisa kotoran hasil fermentasi menjadi pupuk organik, kita kemas dan siap dijual kembali kepada masyarakat sebagai sumber penghasilan kelompok tani,” jelasnya.
Ditambahkannya, bahan baku kotoran ternak sangat mencukupi, karena itu setiap hari kebutuhan penerangan dan kompor gas kelompok dipenuhi dari energi biogas yang dihasilkan. (j2)
Justiar Noer dalam arahannya mengungkapkan bahwa pengembangan biogas menggunakan kotoran ternak merupakan terobosan baru para kelompok tani sapi bergulir di Bangka Selatan. Hal ini menurut Justiar merupakan langkah positif yang harus didukung pemerintah dengan mengembangkannya dalam skala yang lebih besar.
“Listrik biogas merupakan bentuk kreativitas kelompok tani. Kotoran ternak sapi bisa digunakan sebagai sumber penghasilan baru, selain memberikan energi gas, tetapi juga kotoran hasil pengolahan menjadi gas dapat dikemas menjadi pupuk organik siap pakai. Dan kalau ini kita kembangkan serius, akan lebih banyak daya gas yang bisa digunakan untuk keperluan rumah tangga,” ungkap Justiar.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Basel, Ahmad Damiri, menjelaskan program sapi bergulir kepada kelompok tani selama ini mengalami banyak perkembangan jumlah populasi sapi. Karena itu, pihak dinas berusaha untuk membenahi fasilitas kandang dengan menyalurkan bantuan pembuatan kandang. Selaian itu, guna menambah produktivitas sapi peliharaan, para anggota kelompok tani diberikan bantuan zat mineral perangsang pertumbuhan ternak sapi.
“Sehubungan dengan biogas, untuk sementara masih dikembangkan di tingkat kelompok tani masing-masing, tetapi ke depan akan dikembangkan secara bersama dalam suatu wadah yang lebih besar dan terpusat. Program biogas menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan para anggota kelompok tani, gasnya menjadi sumber daya sedangkan kotoran dijadikan pupuk organik siap pakai,” jelas Damiri.
Bupati Bangka Selatan, Justiar Noer dan Ketua PKK Basel, Ekawati Justiar Noer, meresmikan pengembangan biogas dengan menghidupkan genset menggunakan energi biogas, menyalakan kompos gas dari energi biogas serta menghidupkan lampu listrik di kandang sapi kelompok tani yang menggunakan energi biogas. (j2)
Masih Sederhana
SEMENTARA itu, Ketua Kelompok Tani Setia Manunggal, Wartono, menuturkan kolam pengolahan atau fermentasi yang dikembangkan sekarang masih ukuran kecil untuk kapasitas tujuh kubik. Ia menambahkan bahwa proses pengolahannya pun sederhana.
“Kotoran ternak sapi disalurkan ke kolam fermentasi, diolah, menghasilkan gas dan sisa kotoran. Gasnya disalurkan melalui pipa gas ke genset sebagai sumber energi genset untuk penerangan serta ke kompor gas. Untuk sementara energi biogas masih hanya digunakan untuk keperluan penerangan dan kompor gas. Gasnya kita gunakan, lalu sisa kotoran hasil fermentasi menjadi pupuk organik, kita kemas dan siap dijual kembali kepada masyarakat sebagai sumber penghasilan kelompok tani,” jelasnya.
Ditambahkannya, bahan baku kotoran ternak sangat mencukupi, karena itu setiap hari kebutuhan penerangan dan kompor gas kelompok dipenuhi dari energi biogas yang dihasilkan. (j2)
